Empat Dzikir Yang Paling Dicintai Allah
Empat Dzikir Yang Paling Dicintai Allah adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 29 Muharram 1448 H / 14 Juli 2026 M.
Kajian Tentang Empat Dzikir Yang Paling Dicintai Allah
Prof. Dr. As-Syaikh Abdur Razzaq menjelaskan di dalam kitabnya:
“Sesungguhnya sebaik-baik ucapan hamba dan seutama-utama dzikir setelah Al-Qur’anul Karim adalah empat kalimat. Keempat kalimat ini memiliki kedudukan yang tinggi, urusan yang agung, dan martabat yang mulia di dalam agama Allah.”
Telah ada banyak sekali dalil serta nash yang menerangkan tentang keutamaan kalimat dzikir tersebut. Keutamaan-keutamaan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Ucapan yang Paling Dicintai oleh Allah
Keutamaan pertama dari empat kalimat dzikir ini adalah statusnya sebagai ucapan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengenai hal ini, Imam Muslim meriwayatkan di dalam Kitab Shahihnya sebuah hadits dari sahabat Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ
“Ucapan yang paling dicintai oleh Allah ada empat perkara, yaitu: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar. Tidak mengapa bagimu untuk memulainya dari kalimat mana saja.” (HR. Muslim)
Ketentuan di dalam hadits tersebut menunjukkan keleluasaan di dalam berdzikir, di mana seseorang tidak diwajibkan untuk menjaga urutan lafalnya secara tertib. Pembacaan dzikir dapat dimulai dari kalimat mana saja tanpa mengurangi keutamaannya.
Selain itu, Imam Abu Dawud ath-Thayalisi juga meriwayatkan di dalam kitab musnadnya dengan lafal yang senada:
أَرْبَعٌ هُنَّ مِنْ أَطْيَبِ الْكَلَامِ، وَهُنَّ مِنَ الْقُرْآنِ، لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ
“Ada empat ucapan yang termasuk ucapan yang paling baik, dan keempatnya merupakan bagian dari Al-Qur’an. Tidak mengapa bagimu untuk memulainya dari kalimat mana saja, yaitu: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.” (HR. Ath-Thayalisi)
2. Lebih Dicintai daripada Dunia dan Seisinya
Keutamaan kedua adalah penegasan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa keempat kalimat dzikir ini jauh lebih beliau cintai daripada segala sesuatu yang disinari oleh matahari saat terbit. Hal ini digambarkan melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ؛ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Sungguh, jika aku mengucapkan: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar; hal itu jauh lebih aku cintai daripada apa saja yang matahari terbit padanya.” (HR. Muslim)
Ungkapan mengenai segala sesuatu yang matahari terbit padanya memiliki makna cakupan yang sangat luas. Kalimat tersebut tidak hanya merujuk pada bumi beserta seluruh kekayaan dunia dan seisinya, melainkan mencakup pula planet-planet lain seperti Mars dan Merkurius, serta seluruh jagat raya yang mendapatkan sinar matahari. Membaca keempat kalimat dzikir tersebut memiliki nilai serta keutamaan yang jauh lebih mulia daripada keindahan seluruh alam semesta tersebut.
3. Dzikir Ringan Berpahala Besar untuk Orang yang Lanjut Usia
Keutamaan empat kalimat mulia ini juga dijelaskan dalam riwayat yang terdapat di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan Syu’abul Iman karya Imam Al-Baihaqi. Hadits ini memiliki sanad yang baik (jayyid), bersumber dari Asim bin Bahdalah, dari Abu Shalih, dari sahabat perempuan Ummu Hani binti Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anha. Beliau menceritakan suatu peristiwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjalan melewatinya:
قَالَتْ: مَرَّ بِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ، فَمُرْنِي بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ
“Ummu Hani berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati saya, lalu saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah tua dan lemah, maka perintahkanlah kepada saya suatu amalan yang dapat saya amalkan dalam keadaan duduk’.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memberikan tuntunan dzikir yang sangat berharga melalui sabda beliau:
سَبِّحِي اللَّهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تَعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاحْمَدِي اللَّهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ، تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَكَبِّرِي اللَّهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ، فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ، وَهَلِّلِي اللَّهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، وَلا يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لأَحَدٍ عَمَلٌ أَفْضَلُ مِمَّا يُرْفَعُ لَكِ، إِلا أَنْ يَأْتِيَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ
“Ucapkanlah tasbih (Subhanallah) seratus kali, karena sesungguhnya itu sebanding bagimu dengan memerdekakan seratus orang budak dari keturunan nabi Ismail. Ucapkanlah tahmid (Alhamdulillah) seratus kali, karena sesungguhnya itu sebanding bagimu dengan mempersiapkan seratus ekor kuda yang pelananya telah dipasang dan kendalinya telah diikat untuk dikendarai di jalan Allah. Ucapkanlah takbir (Allahu Akbar) seratus kali, karena sesungguhnya itu sebanding bagimu dengan seratus ekor unta yang telah diberi tanda untuk kurban dan diterima di sisi Allah. Dan ucapkanlah tahlil (Laa ilaaha illallah) seratus kali, dzikir tersebut akan memenuhi ruang antara langit dan bumi. Pada hari itu, tidak ada amalan seorang pun yang diangkat lebih utama daripada amalanmu, kecuali orang yang mengamalkan hal yang sama dengan yang kamu amalkan.” (HR. Ahmad)
Melalui hadits tersebut, Ummu Hani Radhiyallahu ‘Anha yang sedang dalam kondisi fisik yang lemah dan berusia lanjut meminta amalan yang praktis agar tetap produktif meraih pahala. Dzikir ini menjadi solusi luar biasa daripada menghabiskan waktu tanpa aktivitas yang jelas. Membaca Subhanallah seratus kali, Alhamdulillah seratus kali, Allahu Akbar seratus kali, dan Laa ilaaha illallah seratus kali memberikan ganjaran yang sangat besar.
Berkaitan dengan riwayat tersebut, Syaikh Al-Albani rahimahullah menilai hasan kualitas hadits yang menyebutkan bahwa rangkaian dzikir ini termasuk ke dalam amalan yang dianjurkan untuk dibaca secara rutin pada waktu pagi dan petang.
Renungan terhadap Besarnya Pahala
Syaikh Abdurrazzaq mengajak setiap muslim untuk memperhatikan serta merenungkan betapa besarnya balasan pahala yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di balik ucapan-ucapan mulia ini. Padahal, amalan dzikir ini tergolong sangat ringan dan mudah untuk dipraktikkan.
Melafalkan bacaan Subhanallah sebanyak seratus kali tidak membutuhkan durasi waktu yang lama. Durasi penyelesaian dzikir tersebut sama sekali tidak mencapai lima belas menit; durasi rata-rata yang diperlukan hanyalah sekitar lima menit saja sampai selesai, tetapi pahala yang disiapkan setara dengan memerdekakan seratus orang budak keturunan Nabi Ismail. Kondisi ini menunjukkan kerugian yang sangat besar bagi seseorang yang hanya menghabiskan waktunya untuk duduk termenung, melihat kendaraan yang lalu lalang, atau menonton film tanpa mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Waktu yang berharga tersebut terbuang begitu saja dalam kekosongan.
Fenomena maraknya masyarakat yang mengalami stres pada zaman sekarang disebabkan oleh kekosongan pikiran akibat enggan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Kalimat Penggugur Dosa-Dosa
Keutamaan berikutnya dari empat kalimat mulia ini adalah fungsinya sebagai penggugur dosa-dosa. Penjelasan mengenai keutamaan ini termaktub di dalam kitab Musnad Imam Ahmad, Jami’ At-Tirmidzi, serta Mustadrak Al-Hakim, bersumber dari riwayat sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ
“Tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mengucapkan: Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar, Subhanallah, Alhamdulillah, dan Laa haula walaa quwwata illaa billah, melainkan dosa-dosanya akan digugurkan oleh Allah walaupun jumlahnya lebih banyak daripada buih di lautan.” (HR. Tirmidzi)
Kekuatan kalimat-kalimat dzikir tersebut sangat luar biasa dalam menghapuskan noda-noda kesalahan seorang hamba. Mayoritas ulama memberikan perincian bahwa dosa-dosa yang dimaksud di dalam konteks pengampunan dzikir ini adalah kategori dosa-dosa kecil, bukan dosa besar. Ketentuan batasan ini merujuk pada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu, ibadah Jumat menuju Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan menuju Ramadan berikutnya, merupakan penggugur dosa-dosa yang terjadi di antara waktu-waktu tersebut selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)
Hadits tersebut dijadikan sebagai landasan dalil oleh mayoritas ulama (jumhur) bahwa ibadah-ibadah agung seperti shalat lima waktu, salat Jumat, dan puasa Ramadan sekalipun hanya memiliki kekuatan untuk menghapuskan dosa-dosa kecil saja.
Kendati demikian, Syaikh Al-Albani rahimahullah menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa ibadah shalat lima waktu juga memiliki kemampuan untuk menggugurkan dosa-dosa besar. Kondisi tersebut dicapai apabila seseorang menunaikan shalatnya dengan tingkat kekhusyukan yang penuh serta dilandasi oleh rasa takut yang mendalam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Landasan yang digunakan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah adalah hadits lain yang mengumpamakan shalat lima waktu seperti aktivitas mandi di sebuah sungai sebanyak lima kali dalam sehari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟
“Apakah masih ada kotoran yang tersisa pada badannya?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan analogi tersebut, mustahil jika kotoran-kotoran yang kecil bisa bersih secara total sementara kotoran yang besar tidak ikut tersapu bersih. Hadits ini menunjukkan bahwa shalat lima waktu yang dikerjakan dengan penuh kesungguhan mampu menghapuskan dosa-dosa besar. Kiasan serupa berlaku pada ibadah haji, di mana terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa setiap butir kerikil yang dilemparkan pada saat melempar jumrah dapat menggugurkan satu dosa besar. Apabila aktivitas melempar jumrah saja memiliki keutamaan untuk menghapuskan dosa besar, maka shalat lima waktu yang menempati kedudukan sebagai rukun Islam terbesar setelah dua kalimat syahadat tentu memiliki nilai yang jauh lebih agung untuk meraih pengampunan tersebut.
Perumpamaan Gugurnya Dosa Seperti Daun Kering
Prinsip pengguguran dosa ini juga memiliki keselarasan makna dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Di dalam riwayat tersebut dikisahkan suatu momen ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang berjalan melewati sebuah pohon yang dedaunan di rantingnya sudah dalam kondisi kering, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memukul ranting pohon tersebut menggunakan tongkatnya. Tindakan itu mengakibatkan dedaunan kering yang berada di ranting pohon berjatuhan. Pada momen itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، تُسَاقِطُ مِنْ ذُنُوبِ العَبْدِ كَمَا تَسَاقَطَ وَرَقُ هَذِهِ الشَّجَرَةِ
“Sesungguhnya ucapan Alhamdulillah, Subhanallah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar itu menggugurkan dosa-dosa seorang hamba sebagaimana gugurnya daun pohon ini.” (HR. Tirmidzi)
Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan dan kekhilafan, baik dosa yang dilakukan oleh mata, telinga, maupun lisan. Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala rahmat-Nya menyediakan berbagai macam amalan ringan yang dapat digunakan untuk membersihkan diri serta menggugurkan dosa-dosa tersebut.
Rangkaian kalimat dzikir Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar hanya membutuhkan durasi beberapa detik saja untuk diucapkan. Waktu yang sangat singkat tersebut memiliki efektivitas yang luar biasa untuk menghapuskan hamparan dosa yang banyak.
5. Tanaman di Dalam Surga
Keutamaan lainnya dari empat kalimat mulia ini adalah kedudukannya sebagai tanaman di dalam surga. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
“Aku bertemu dengan Nabi Ibrahim pada malam aku diisra’kan, lalu beliau berkata: ‘Wahai Muhammad, sampaikan salamku untuk umatmu dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu memiliki tanah yang subur, air yang segar, dan bahwasanya surga itu saat ini masih berupa dataran tandus yang belum memiliki tanaman, dan sesungguhnya tanamannya adalah ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar’.” (HR. Tirmidzi)
Pertemuan antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam tersebut terjadi di langit ketujuh. Pesan titipan salam dari Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam untuk umat Islam ini memuat kabar penting mengenai kondisi fisik surga yang tanahnya subur dan airnya segar, namun areanya masih berupa dataran luas yang kosong.
Satu tanaman di dalam surga memiliki nilai yang jauh lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya. Syaikh Abdur Razzaq memberikan penjelasan bahwa maksud dari hadits ini adalah tanaman di dalam surga akan tumbuh dengan sangat cepat bagi seseorang yang merutinkan pembacaan kalimat-kalimat dzikir tersebut.
6. Amalan Terbaik bagi yang Berumur Panjang
Keutamaan berikutnya menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki kedudukan lebih utama di sisi Allah ‘Azza wa Jalla daripada seorang mukmin yang diberikan karunia umur panjang di dalam Islam, lalu ia mengisi hari-harinya dengan memperbanyak ucapan takbir, tasbih, tahlil, serta tahmid.
Mengenai keutamaan ini, Imam Ahmad dan Imam An-Nasai di dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari sahabat Abdullah bin Syaddad Radhiyallahu ‘Anhu:
أَنَّ نَفَرًا مِنْ بَنِي عُذْرَةَ ثَلَاثَةً أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمُوا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ يَكْفِينِيهِمْ؟
“Bahwasanya ada beberapa orang berjumlah tiga orang dari Bani Udrah datang menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu mereka masuk Islam. Maka Nabi bersabda kepada para sahabatnya: ‘Siapa yang mau mencukupi kebutuhan mereka?” (HR. Ahmad)
Pertanyaan tersebut diajukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena pada saat itu beliau sedang tidak memiliki persediaan makanan di rumah untuk menjamu ketiga tamu yang baru memeluk Islam tersebut. Menanggapi tawaran dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai siapa yang bersedia menjamu ketiga orang tamu tersebut, Abu Thalhah Radhiyallahu ‘Anhu menyatakan kesediaannya dengan berkata, “Saya, wahai Rasulullah.” Ketiga orang tersebut akhirnya tinggal bersama Abu Thalhah.
Beberapa waktu kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirimkan sebuah pasukan perang. Salah satu dari ketiga orang tersebut ikut berangkat dan gugur sebagai syahid. Pada kesempatan berikutnya, beliau kembali mengirimkan pasukan perang, dan orang kedua dari sisa rombongan tersebut ikut bertempur lalu gugur sebagai syahid pula. Dengan demikian, tersisa satu orang terakhir. Orang yang ketiga ini rupanya wafat di atas kasur (bukan karena mati syahid) sekitar setahun setelah kematian rekan-rekannya.
Peristiwa ini memicu sebuah pengalaman spiritual bagi Abu Thalhah Radhiyallahu ‘Anhu melalui sebuah mimpi, sebagaimana yang beliau kisahkan:
فَرَأَيْتُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ الَّذِينَ كَانُوا عِنْدِي فِي الْجَنَّةِ، فَرَأَيْتُ الْمَيِّتَ عَلَى فِرَاشِهِ أَمَامَهُمْ، وَرَأَيْتُ الَّذِي اسْتُشْهِدَ أَخِيرًا يَلِيهِ، وَرَأَيْتُ الَّذِي اسْتُشْهِدَ أَوَّلَهُمْ آخِرَهُمْ. قَالَ: فَدَخَلَنِي مِنْ ذَلِكَ
“Lalu saya bermimpi melihat tiga orang yang tinggal bersama saya itu berada di dalam surga. Namun, saya melihat orang yang terakhir meninggal di atas kasur justru berada di posisi paling depan. Orang yang mati syahid kedua berada di belakangnya, dan orang yang mati syahid pertama berada di posisi paling belakang. Hal itu membuat saya merasa heran.”
Keheranan tersebut muncul karena status mati syahid dikenal memiliki keutamaan yang sangat agung, tetapi dalam mimpi tersebut kedudukan orang yang wafat di atas kasur justru lebih tinggi. Abu Thalhah Radhiyallahu ‘Anhu kemudian mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menceritakan isi mimpi tersebut.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا أَنْكَرْتَ مِنْ ذَلِكَ؟ لَيْسَ أَحَدٌ أَفْضَلَ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَمَّرُ فِي الْإِسْلَامِ لِتَكْبِيرِهِ وَتَسْبِيحِهِ وَتَهْلِيلِهِ وَتَحْمِيدِهِ
“Mengapa kamu mengingkari hal itu? Tidak ada seorangpun yang lebih utama di sisi Allah daripada seorang mukmin yang dipanjangkan umurnya dalam Islam karena takbir, tasbih, tahlil, dan tahmid yang diucapkannya.” (HR. Ahmad)
Orang ketiga yang wafat di atas kasur tersebut memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena ia hidup setahun lebih lama, sehingga memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk melafalkan dzikir tersebut. Di dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperjelas dengan menegaskan bahwa orang tersebut telah melaksanakan puasa Ramadhan, mendirikan ribuan rakaat shalat, serta memperbanyak ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.
Kesempatan hidup dan sisa umur yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seyogianya tidak disia-siakan. Lisan harus selalu dibiasakan untuk berzikir. Saat menghadapi situasi kemacetan lalu lintas ketika mengendarai mobil atau motor, daripada mengeluh, seorang muslim dapat mengisinya dengan melafalkan kalimat-kalimat thayyibah tersebut.
Tipu Daya Setan dalam Memalingkan Dzikir
Setan senantiasa berupaya agar manusia lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu pernah memberikan peringatan mengenai tipu daya ini:
إِذَا رَكِبَ الرَّجُلُ الدَّابَّةَ، فَلَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ، رَدِفَهُ الشَّيْطَانُ، فَقَالَ لَهُ: تَغَنَّ
“Apabila seorang laki-laki menaiki kendaraan lalu ia tidak menyebut nama Allah (membaca Bismillah), maka setan akan membonceng di belakangnya dan berkata kepadanya: ‘Bernyanyilah!’“ (HR. Ath-Thabrani)
Tujuan setan menyuruh manusia bernyanyi adalah agar manusia lupa untuk berdzikir. Ketika seorang hamba berniat untuk memulai dzikir saat berkendara, setan akan datang dan membisikkan berbagai ingatan tentang urusan duniawi, bisnis, maupun orang lain, sehingga lisan menjadi berat dan dipalingkan dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bab 30: Keutamaan Empat Kalimat Mulia yang Dipilih oleh Allah
Pembahasan kini memasuki bab ke-30, yang masih menguraikan tentang keutamaan empat kalimat mulia ini. Keutamaan yang dibahas pada bab ini adalah status keempat kalimat tersebut sebagai pilihan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk hamba-Nya, serta besarnya pahala yang disediakan bagi yang mengamalkannya. Mengenai hal ini, Imam Ahmad meriwayatkan di dalam kitab musnadnya.
7. Pahala Berlipat dari Kalimat Pilihan Allah
Keutamaan mengenai empat kalimat mulia yang dipilih oleh Allah ‘Azza wa Jalla juga diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak dengan sanad yang shahih, bersumber dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنَ الْكَلَامِ أَرْبَعًا: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ. فَمَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، كُتِبَتْ لَهُ عِشْرُونَ حَسَنَةً، وَحُطَّتْ عَنْهُ عِشْرُونَ سَيِّئَةً، وَمَنْ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، فَمِثْلُ ذَلِكَ، وَمَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمِثْلُ ذَلِكَ، وَمَنْ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ، كُتِبَتْ لَهُ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً، وَحُطَّ عَنْهُ ثَلَاثُونَ خَطِيئَةً
“Sesungguhnya Allah telah memilih empat ucapan, yaitu: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illaallah, dan Allahu Akbar. Barang siapa mengucapkan Subhanallah, maka dituliskan baginya dua puluh kebaikan dan digugurkan darinya dua puluh kesalahan. Barang siapa mengucapkan Allahu Akbar, maka ia mendapatkan pahala yang semisal. Barang siapa mengucapkan Laa ilaaha illallah, maka ia mendapatkan pahala yang semisal. Dan barang siapa mengucapkan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin yang bersumber dari dalam hatinya, maka dituliskan baginya tiga puluh kebaikan dan digugurkan darinya tiga puluh kesalahan.” (HR. Ahmad)
Pemberian pahala kebaikan serta pengguguran kesalahan tersebut berlaku pada setiap satu kali pengucapan dzikir. Khusus untuk lafal Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, terdapat keutamaan yang lebih besar berupa pencatatan tiga puluh kebaikan dan pengguguran tiga puluh kesalahan, dengan catatan lafal tersebut benar-benar dihayati dan dirasakan di dalam hati, bukan sebatas ucapan lisan belaka.
8. Perisai dari Api Neraka dan Penyelamat di Hari Kiamat
Keutamaan berikutnya menjelaskan bahwa keempat kalimat mulia ini berfungsi sebagai perisai dari api neraka. Sarana pelindung dari api neraka ternyata tidak hanya terbatas pada ibadah puasa, melainkan dapat pula diikhtiarkan melalui perbanyakan dzikir ini. Selain itu, kalimat-kalimat ini akan datang pada hari kiamat sebagai penyelamat serta penuntun bagi orang yang merutinkannya agar dapat mendahului yang lain masuk ke dalam surga.
Mengenai hal ini, Imam Al-Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Al-Mustadrak, begitu pula Imam An-Nasai di dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah, bersumber dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
خُذُوا جُنَّتَكُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مِنْ عَدُوٍّ قَدْ حَضَرَ؟ قَالَ: لَا، بَلْ جُنَّتُكُمْ مِنَ النَّارِ، قُولُوا: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، فَإِنَّهُنَّ يَأْتِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُنْجِيَاتٍ وَمُقَدِّمَاتٍ، وَهُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ
“Ambillah perisai kalian! Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah dari musuh yang telah datang?’ Rasulullah bersabda: ‘Bukan, melainkan perisai kalian dari api neraka. Ucapkanlah: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar. Karena sesungguhnya kalimat-kalimat tersebut akan datang pada hari kiamat sebagai penyelamat dan yang mendahului, dan itulah Al-Baqiyatush Shalihat’.” (Al-Mustadrak)
Hakikat Al-Baqiyatush Shalihat
Hadits tersebut memberikan tafsiran yang jelas mengenai istilah Al-Baqiyatush Shalihat (amalan-amalan saleh yang kekal) yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, tepatnya pada surat Al-Kahfi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
“Namun amalan kebajikan yang abadi itu lebih baik pahalanya disisi Rabbmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi[18]: 46)
Makna dari kata Al-Baqiyat merujuk pada segala sesuatu yang bersifat kekal dan abadi. Melalui penjelasan hadits di atas, hakikat dari amalan saleh yang mendatangkan pahala kekal serta harapan terbaik di sisi Allah ‘Azza wa Jalla tersebut adalah rutinitas lisan dalam melafalkan ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.
9. Menggaung di Sekitar Arasy Ar-Rahman
Rangkaian kalimat dzikir Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar memiliki keutamaan yang luar biasa karena kalimat-kalimat ini akan mendekat dan berputar di sekitar Arsy Allah yang Maha Pengasih. Selain itu, kalimat-kalimat ini memiliki suara yang bergaung bagaikan dengungan kawanan lebah sambil terus menyebutkan nama orang yang mengucapkannya di dunia. Mengenai keutamaan ini, Imam Ahmad, Ibnu Majah, serta Imam Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak meriwayatkan dari sahabat Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ مِمَّا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللَّهِ: التَّسْبِيحَ، وَالتَّكْبِيرَ، وَالتَّهْلِيلَ، وَالتَّحْمِيدَ، يَنْعَطِفْنَ حَوْلَ الْعَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، تُذَكِّرُ بِصَاحِبِهَا، أَمَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ، أَوْ لَا يَزَالَ لَهُ، مَنْ يُذَكِّرُ بِهِ؟
“Sesungguhnya di antara dzikir yang kalian sebutkan untuk mengagungkan Allah adalah tasbih, takbir, tahlil, dan tahmid. Kalimat-kalimat ini berputar di sekitar Arsy dan memiliki suara dengungan seperti dengungan lebah, yang akan selalu mengingatkan dan menyebut nama orang yang mengucapkannya. Tentu setiap orang menyukai jika namanya selalu disebut-sebut di sisi Allah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Setiap orang tentu memiliki kecenderungan untuk merasa senang apabila namanya disebut di media massa seperti koran atau televisi, meskipun hal tersebut tidak memberikan manfaat yang hakiki bagi akhiratnya. Sebaliknya, penyebutan nama seorang hamba di sekitar Arsy di hadapan Allah Rabbul Izzati wal Jalalah karena rutinitasnya melafalkan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar merupakan sebuah kemuliaan yang jauh lebih besar dan bermanfaat.
10. Berat di Dalam Timbangan Amal
Keutamaan berikutnya dari empat kalimat mulia ini adalah bobotnya yang sangat berat di dalam timbangan amal pada hari kiamat. Mengenai perkara ini, Imam Ahmad meriwayatkannya di dalam kitab Musnad, Imam An-Nasai di dalam Amalul Yaum wal Lailah, serta Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim di dalam kitab sahih mereka, bersumber dari sahabat Abu Sulma Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
بَخٍ بَخٍ وَأَشَارَ بِيَدِهِ بِخَمْسٍ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يُتَوَفَّى لِلْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فَيَحْتَسِبُهُ
“Bagus sekali, bagus sekali (ungkapan kekaguman). Beliau memberikan isyarat dengan lima jarinya lalu bersabda: ‘Betapa beratnya lima hal ini di dalam timbangan amal, yaitu: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar, dan seorang anak shaleh milik seorang muslim yang meninggal dunia lalu orang tuanya bersabar serta mengharapkan pahala dari Allah’.” (HR. Ibnu Hibban)
Lafal bakhin bakhin merupakan sebuah ungkapan di dalam bahasa Arab yang digunakan untuk menunjukkan rasa kagum yang mendalam terhadap sesuatu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengagumi bobot timbangan dari lima perkara tersebut, yang empat di antaranya adalah kalimat-kalimat dzikir thayyibah, sedangkan yang kelima adalah ujian berupa wafatnya anak saleh yang dihadapi oleh orang tua dengan sikap sabar serta ikhlas demi meraih pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
11. Bernilai Sama dengan Sedekah
Keutamaan sepuluh menjelaskan bahwa setiap satu kali pengucapan dari kalimat-kalimat dzikir ini memiliki nilai pahala yang setara dengan ibadah sedekah. Penjelasan ini termaktub di dalam riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu.
Di dalam hadits tersebut dikisahkan bahwa ada sejumlah orang dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berada dalam kondisi fakir dan miskin datang menemui beliau. Para sahabat tersebut menyampaikan keluh kesah mereka:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ
“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya itu telah pergi membawa pahala yang sangat banyak. Mereka mendirikan shalat sebagaimana kami shalat, mereka menunaikan puasa sebagaimana kami puasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki.” (HR. Muslim)
Menanggapi keluhan dari para sahabat yang fakir dan miskin, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penjelasan bahwa pintu sedekah tidak melulu berupa materi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil (Laa ilaaha illallah) adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan pada hubungan intim salah seorang di antara kalian dengan istrinya juga terdapat sedekah.” (HR. Muslim)
Melalui penjelasan tersebut, setiap muslim dapat bersedekah melalui aktivitas sehari-hari. Mengajak seorang teman untuk mendirikan salat secara berjamaah sudah bernilai sedekah. Demikian pula ketika mencegah kemungkaran, seperti mengingatkan seorang teman untuk menjaga pandangan matanya agar tidak berbuat maksiat.
Mendengar sabda beliau mengenai hubungan intim, para sahabat merasa heran lalu mengajukan sebuah pernyataan yang butuh penegasan:
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ، كَانَ لَهُ أَجْرٌ
“Para sahabat berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami yang memuaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?’ Rasulullah bersabda: ‘Bagaimana pendapat kalian jika ia menyalurkannya pada tempat yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Demikian pula jika ia menyalurkannya pada tempat yang halal, maka ia mendapatkan pahala’.” (HR. Muslim)
Saluran syahwat yang ditempatkan pada pernikahan yang sah bernilai pahala dan dikategorikan sebagai bentuk sedekah. Tuntunan ini tentu hanya berlaku bagi mereka yang sudah memiliki ikatan pernikahan, bukan untuk yang belum menikah.
Jiwa Perlombaan Para Sahabat dalam Kebaikan
Kisah para sahabat fakir ini memberikan gambaran yang jelas bahwa kecemburuan mereka terhadap orang-orang kaya bukan didasari oleh keinginan menumpuk harta duniawi. Rasa iri tersebut muncul semata-mata karena orang-orang kaya memiliki instrumen amal saleh yang lebih banyak. Orang-orang miskin merasa tertinggal dalam perolehan tabungan akhirat.
Untuk menenangkan hati mereka, dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan sebuah resep amalan agar mereka dapat mengejar pahala orang-orang kaya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menawarkan sebuah tuntunan, yaitu membaca Subhanallah tiga puluh tiga kali, Alhamdulillah tiga puluh tiga kali, dan Allahu Akbar tiga puluh empat kali setiap selesai mendirikan shalat fardhu.
Amalan tersebut kemudian dipraktikkan oleh para sahabat fakir secara tersembunyi. Namun, seiring berjalannya waktu, orang-orang kaya akhirnya mengetahui amalan tersebut dan ikut mengamalkannya. Hal ini membuat orang-orang miskin kembali mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa amalan mereka telah diketahui dan ditiru. Menanggapi hal tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan sebuah pernyataan:
ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
“Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 54)
Menyaingi tingkat amalan orang kaya yang saleh memang merupakan sebuah tantangan yang besar. Ketika seorang muslim yang kekurangan mendirikan shalat tahajjud, berpuasa sunnah, dan berdzikir, orang kaya yang saleh tersebut juga mampu melakukan aktivitas yang sama, ditambah dengan kemampuan finansial untuk bersedekah, menunaikan ibadah haji, serta umrah.
Meskipun demikian, keterbatasan materi tidak boleh membuat seorang muslim berputus asa. Setiap hamba harus terus berusaha mencari alternatif amalan lain demi bersaing di dalam kebaikan. Prinsip ini mencerminkan jiwa perlombaan yang sesungguhnya. Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan kurangnya jiwa kompetisi spiritual di kalangan sebagian muslim. Ketika melihat orang lain berhasil menghafal juz amma atau meningkatkan kapasitas ibadahnya, sering kali timbul sikap abai dengan dalih bahwa melaksanakan shalat lima waktu saja sudah dirasa cukup. Sikap merasa puas tersebut bukanlah karakter seorang pemburu pahala. Jiwa perlombaan yang sejati akan memicu dorongan di dalam hati untuk beramal lebih baik saat melihat orang lain mampu meningkatkan kualitas ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Download MP3 Kajian Tentang Empat Dzikir Yang Paling Dicintai Allah
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Empat Dzikir Yang Paling Dicintai Allah” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56380-empat-dzikir-yang-paling-dicintai-allah/